Pages

Kamis, 25 Februari 2010

Apa yang Berbeda dengan Otak Einstein ?

Jakarta, 'Belajar yang rajin ya nak, biar pintar matematika dan fisika seperti Einstein', begitu kata seorang ibu pada anaknya. Apa sebenarnya yang istimewa dari otak Albert Einstein? Jawaban pertanyaan tersebut coba digali secara mendalam oleh para ahli selama beberapa waktu ini.

Albert Einstein meninggal pada tanggal 18 April 1955 dalam usia 76 tahun. Dokter Thomas Harvey, sang patologis menyimpan otak Einstein setelah diotopsi, sebelum jenazah tersebut dikremasi. Sampai saat ini ada beberapa penelitian yang cukup menarik perhatian tentang otak Einstein tersebut.

Penelitian pertama dipublikasikan pada tahun 1985. Para peneliti coba menghitung sel saraf (neuron), dan sel penunjang (sel glia) di 4 bagian otak Einstein. Area 9 di korteks cerebri kiri dan kanan, dan area 39 di bagian korteks cerebri kiri dan kanan.



Area 9 merupakan bagian otak yang berperan penting dalam perencanaan, atensi, dan memori. Area 39 adalah bagian otak yang berperan besar dalam fungsi berbahasa dan tugas kompleks lainnya. Rasio antara sel saraf (neuron) dan sel glia otak Einstein dibandingkan dengan 11 orang laki-laki yang meninggal dunia di usia 64 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio neuron dan sel glia otak Einstein lebih kecil dibanding para pembandingnya, terutama pada area 39 kiri. Pada area 39 kiri, otak Einstein memiliki neuron yang lebih sedikit, sehingga lebih banyak sel glia untuk setiap neuron otaknya.

Para peneliti berkesimpulan bahwa jumlah sel glia per neuron yang lebih besar tersebut berarti bahwa kebutuhan metabolik sel-sel saraf Einstein lebih tinggi. Hal ini yang mungkin menjelaskan mengapa Einstein memiliki kemampuan berpikir dan ketrampilan konseptual yang lebih baik.

Publikasi kedua diterbitkan pada tahun 1996 memperlihatkan bahwa otak Einstein sedikit lebih ringan daripada rata-rata berat otak laki-laki dewasa, namun memiliki kepadatan neuron yang lebih tinggi. Kepadatan neuron ini yang diperkirakan berperan dalam fungsi berpikirnya yang lebih baik.

Penelitian yang lain membandingkan karakteristik lapisan luar otak Einstein dengan 35 otak laki-laki yang lain (rata-rata usia 35 tahun). Otak Einstein memiliki celah (yang disebut sulcus) yang berbeda dengan otak yang lain di bagian parietal kanan dan kiri. Otak di bagian parietal terutama berperan dalam fungsi luhur manusia.

Bagian ini diperkirakan memiliki peran yang penting kemampuan matematika dan berpikir rasional. Struktur otak yang sangat khusus ini dianggap memiliki kontribusi yang besar terhadap kemampuan matematika dan fisikanya yang menakjubkan.

Pertanyaan yang menarik adalah apakah semua ahli fisika dan matematika memiliki struktur yang serupa dengan Albert Einstein? Hal ini memerlukan pembuktian tersendiri.

Pertanyaan kritis yang lain adalah sampel pembanding dengan jumlah yang sedikit. Otak Einstein dianalisis pada kondisi post mortem. Penelitian saat ini memungkinkan untuk menilai secara fungsional aktivitas otak dengan kondisi tertentu (misalnya: penyelesaian tugas).

Pada riset-riset berikutnya para ahli dianjurkan untuk secara terus mempelajari hal-hal yang berbeda dari otak para genius. Riset yang selanjutnya seharusnya dikerjakan pada sekelompok populasi genius, dan bukan hanya mempelajari otak dari satu orang saja. Inferensi yang dibuat dari satu kasus saja pasti tidak akan memenuhi kaidah-kaidah kualitas penelitian.

Kemajuan teknologi kedokteran pencitraan (imaging) saat ini tampaknya memungkinkan penelitian tersebut. Hal itu diharapkan akan mampu menjawab berbagai kontroversi yang masih ada seputar keunikan otak Einstein, dan berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.